Hati yang
Buta
Ketika aku
melihat dirimu.
Mataku
langsung tertutup oleh karena parasmu.
Dan saat aku
membuka mataku aku serasa buta.
Butaku bukan
hanya karena parasmu tapi karena sikapmu juga.
Tak hanya
mataku saja yang buta.
Tetapi hatiku
langsung buta karenanya.
Teguran dan masukan dari teman tidak aku hiraukan.
Kuanggap perkataan mereka bagaikan sekam yang ditiup angin.
Sampah dan busuk semua masukan dan perkataan mereka.
Hal itu hanyalah duri dalam dagingku.
Begitu juga
dengan perkataan orangtua.
Kuanggap
mereka tidak punya kendali untukku.
Memang mereka
lebih tua tetapi apakah dia punya kendali untukku.
Hah perkataan
mereka hanya seperti buku yang amat membosankan.
Panjang lebar
dan tidak jelas.
Tanpa menghiraukan perkataan mereka.
Akupun menuliskan dan mengatakan kata cinta untuknya.
Namun sayang harapanku hanya di angan-angan.
Ia menolakku dengan mentah-mentah.
Pupus sudah harapanku untuk hidup bersama dengan dia.
Alangkah baiknya
jika aku mendengar mereka.
Sebab kalau
mendengar mereka.
Hati yang
buta ini.
Bisa
dipulihkan oleh cinta kasih mereka.